A Woman Under the Influence

03Jun10

Dir: John Cassavetes

Country: USA

Year: 1974

Ketika berbicara tentang apa itu film Indie atau Independent asal Amerika Serikat, kebanyakan orang akan berfikir tentang Quentin Tarantino dengan Reservoir Dogs dan Pulp Fiction, karena film tersebut mempunyai dialog-dialog keren dan alur narasi yang tidak lazim, atau Little Miss Sunshine karena film tersebut dibuat dengan budget yang terbilang sangat kecil untuk industri film Amerika.

Film independen telah ada semenjak lahirnya media film itu sendiri, tetapi kebanyakan memang dibuat bukan untuk kepentingan komersial alias untuk hobi pribadi saja. Amerika Serikat dengan studio-studio filmnya yang mempunyai biaya promosi dan pemasaran bombastis adalah negara dimana media film dapat dikatakan memang diproduksi dengan tujuan mencari keuntungan, lebih ke urusan bisnis dibandingkan kebebasan berekspresi.

Di era 50-an, dimana kamera video lebih terjangkau untuk dibeli, telah ada nama seperti Lionel Rogosin, Shirley Clarke, dan Bruce Conner yang membuat scene film Indie di Amerika terasa lebih ramai. Namun John Cassavetes-lah orang yang dianggap paling berjasa dan membuat banyak orang sadar bahwa film dapat dibuat dengan dana sendiri, serta didistribusikan sendiri untuk dilihat oleh banyak orang.

A Woman Under the Influence adalah film Indie ketiganya setelah sukses di Eropa dengan Shadows (1958), dan tiga nominasi Oscar pada 1968 dengan Faces. Dibuat dengan merogoh koceknya sendiri hasil aktingnya dalam beberapa film produksi Hollywood seperti Dirty Dozen dan Rosemary’s Baby, A Woman Under the Influence berfokus kepada cerita kompleksnya hubungan sepasang suami-istri dengan tiga anak kecil menjalani tantangan untuk menghadapi masalah “kegilaan” yang diderita oleh sang istri. Mabel (Gena Rowlands), sang istri adalah seorang wanita dengan masalah kejiwaan yang kadang dapat bertindak berlebihan bila merasa terlalu antusias terhadap sesuatu. Dia tidak berbahaya bagi orang di sekitarnya, bahkan dia dapat menjalankan fungsinya sebagai ibu rumah tangga kepada suaminya Nick (Peter Falk), dan ketiga anak mereka.

Nick yang masih dipengaruhi kuat oleh ibunya lama-kelamaan merasa perlu untuk “menyembuhkan” Mabel agar dapat terlihat normal layaknya orang lain di lingkungan mereka dengan cara membawa Mabel ke sebuah institusi kejiwaan selama 6 bulan. Problem utamanya bukan hanya tentang bagaimana orang-orang di sekitar Mabel merasa dia aneh, tetapi sama sulitnya untuk Mabel menerima dirinya berbeda dengan orang lain dan membuat dirinya beradaptasi terhadap orang lain.

Kehebatan Cassavetes terletak pada observasinya yang mendalam terhadap individu-individu dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak diberi dialog-dialog cerdas khas Tarantinian, tetapi dialog yang simpel, kadang terdengar bodoh, dan lucu seperti yang kita dengar dan lakukan dalam keseharian hidup kita. Emosi dan gambaran karakter kita tangkap karena kita mengenal karakter-karakter tersebut dari dialog dan tindakan mereka. Simpati dan benci kita terhadap suatu karakter muncul seperti saat kita mengevaluasi seorang teman atau kerabat dari aksi nyata yang mereka perlihatkan dan lakukan kepada kita. Everything that is on the surface.

Cassavetes mencoba untuk mendudukkan kita pada posisi Nick, Mabel, ketiga anaknya, maupun peran pembantu lainnya. Bagaimana kita merespon situasi tersebut. Bagaimana kita membuat diri kita terlihat bodoh, hilang arah, perduli dengan pendapat dan perkataan orang lain hanya untuk terlihat baik dimata orang luar, dan bagaimana kita dapat menemukan diri kita sendiri, jikalau kita beruntung dan berani untuk membuka pikiran untuk mencoba mengerti permasalahan yang terjadi pada orang lain.
Banyak karakter-karakter dalam film Cassavetes adalah alter-egonya sendiri, tetapi tidak ada yang lebih mendekati daripada Mabel. Mabel adalah Cassavetes, entertainer yang eksentrik, pantomim yang suka memparodikan orang di sekitarnya, mistress of ceremonies penuh guyonan.

Ketika banyak orang ribut tentang film Indie itu harusnya mempunyai sebuah ide segar, berbeda, dan cara bercerita yang unik sehingga membuat film Indie secara superficial terlihat berbeda dengan film yang dibuat studio mainstream Hollywood, Cassavetes mengingatkan kembali tugas seorang seniman itu sebagai reporter terhadap permasalahan dan keberatan-keberatan yang ada di dalam diri dan pikiran seorang seniman itu sendiri. Film-filmnya tidak akan lekang dimakan waktu, karena tidak dibuat berdasarkan suatu invention of idea atau dari segi teknis, tetapi lebih ke invention of understanding between or among people. Film-film dari John Cassavetes mengajarkan dan memberi pengalaman baru dalam melihat, merasakan, mendengar, dan belajar tentang orang lain, dan yang paling penting tentang diri kita sendiri, the personal truth.

Advertisements


No Responses Yet to “A Woman Under the Influence”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: