Zhantai aka Platform

03Jun10

Dir: Jia Zhangke

Country: China

Year: 2000

Industri film di Cina Daratan telah ada semenjak zaman film bisu, dengan bakat seperti Ruan Ling-yu yang banyak membintangi film-film melodrama yang banyak dipengaruhi oleh film-film Hollywood. Namun industri perfilman mereka lebih mudah dan lazim diasosiasikan dengan film kung-fu atau martial arts. Kesuksesan Zhang Yimou dengan Raise the Red Lantern dan Chen Kaige dengan Farewell, My Concubine membuat mata dunia menoleh bahwa Cina juga dapat membuat drama.

Jia Zhang-ke, mungkin namanya akan terasa asing di Indonesia. Di Cina Daratan sendiri, film-filmnya tidak dapat dinikmati secara luas dan legal sampai film ke-empatnya The World (Shijie) di tahun 2004. Zhang-ke banyak dikritik di negaranya sendiri karena selalu membuat film dengan tema susahnya hidup di negara dengan sistem politik komunis dan dikhawatirkan akan membuat Cina terlihat buruk di mata dunia. Sebelum 2004, film-filmnya hanya dapat dinikmati oleh penduduk Cina dalam format VCD dan DVD bajakan yang beredar luas di setiap sudut di negara itu.

Platform adalah film keduanya, dan banyak kritikus film yang setuju bahwa ini adalah salah satu film terbaik yang dibuat di dekade 2000. Setting waktu adalah Cina Daratan dalam kurun waktu antara tahun 1979 sampai tahun 1990, tetapi dimana Cina mulai membuka diri terhadap sistem Kapitalisme dengan kebijakan Open Door yang terkenal itu, dipimpin oleh Deng Xiaoping. Tidak ada penunjuk tahun dilayar kaca kita, tapi kita dapat merasakan pergantian masa atau tahun melalui perubahan sikap, sifat, musik yang diputar, dan yang terpenting kebiasaan yang dilakukan oleh karakter-karakternya.

Platform diceritakan dari sudut pandang 2 orang karakter pria, Cui Mingliang dan Zhang Jun, serta 3 orang karakter wanita yang mempunyai hubungan asmara dengan dua pria tersebut, yang tergabung dalam sebuah kelompok troupe atau travelling players atau artis keliling yang berasal dari sebuah kota kecil bernama Fenyang. Secara garis besar, Zhang-ke mencoba untuk mengobservasi sebuah kelompok masyarakat dalam menerima dan menjalani perubahan dalam sebuah sistem yang tadinya membuat mereka terkekang, tidak mempunyai privasi, dan kesenangan hanya dapat dilakukan dalam tempat tertutup dan terbatas. Kenaifan generasi muda untuk mengadopsi budaya yang baru dipandang rendah oleh generasi yang lebih tua. Menonton film India atau film asing lainnya, perempuan merokok, memakai celana cut-bray atau bell-bottom, dan mendengarkan musik New Wave yang populer di era 80-an dianggap memalukan dan merendahkan harga diri bangsa, padahal generasi muda itu hanya ingin dianggap sebagai bagian dari warga dunia, atau Citizen of the World.

Merasa bahwa seni teater sudah kuno, grup artis keliling itu mencoba untuk mengikuti tren yang ada dengan merubah pertunjukkan mereka menjadi kelompok seni yang membawakan tarian dan nyanyian yang diiringi musik elektronik New Wave buatan Barat tetapi liriknya dirubah ke Bahasa Mandarin dan Kanton. Beberapa orang siap menghadapi perubahan tersebut, dan banyak pula yang merasa perubahan tersebut terlalu cepat dan drastis. Tetapi seperti film Jia Zhang-ke lainnya, selalu ada rindu akan kenangan masa lalu, ketika kehidupan pribadi masyarakat itu diatur oleh kekuasaan, atau lebih sederhana lagi kerinduan terhadap kampung halaman. Beberapa orang merasa modern dan senang akan keberhasilannya setelah berhasil melihat dunia luar dan melakukan hal-hal baru, dan sebagian menjalani perubahan dengan santai.

Tidak sulit untuk merasakan pengaruh Jia Zhang-ke ketika membuat Platform. Seperti layaknya sutradara-sutradara asal Uni Sovyet terdahulu seperti Sergei Eisenstein, Aleksander Dovzhenko, atau Vsevolod Pudovkin, Jia Zhang-ke mendeskripsikan sebuah cerita dari sekumpulan orang dibanding memfokuskan pada satu atau dua karakter layakya film pada umumnya. Fokus dan atensi penuh kita sangat dibutuhkan untuk dapat menikmati film ini, karena Platform mempunyai narasi yang elipsis, layaknya film dari salah satu sutradara film favorit Jia Zhang-ke, yaitu Robert Bresson. Yang artinya, cerita dalam film tidak akan tergambar utuh atau dibutuhkan partisipasi imajinasi yang aktif dari movie-goer untuk mengisi kekosongan-kekosongan narasi dalam film ini.

Medium shot dan long takes yang kadang ekstrim adalah pilihan Jia Zhang-ke ketika memfilmkan Platform untuk merefleksikan secara visual peningkatan kadar polarisasi di berbagai daerah di Cina, sebagai hasil dari perubahan dalam reformasi ekonomi dan budaya mengikuti arus globalisasi dan mdoernisasi yang tidak dapat dihindarkan lagi di penghujung abad 20. Platform dapat dilihat sebagai komedi hasil observasi subtil atau sebuah Epik Realisme seperti yang dikehendaki Jia Zhang-ke sendiri.

Advertisements


No Responses Yet to “Zhantai aka Platform”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: