Babi Buta Yang Ingin Terbang

02Sep10

Director: Edwin

Year: 2008

Country: Indonesia

“Babi Buta Yang Ingin Terbang” dibuka dengan suatu voice-over dengan premis yang jelas dan akan membuat detak jantung setiap orang Indonesia yang menonton akan berdetak lebih keras daripada kebanyakan film yang dirilis oleh sutradara Indonesia lainnya akhir-akhir ini. Film ini bisa jadi provokatif karena tema utamanya adalah rasisme yang oleh sebagian besar orang Indonesia merupakan hal yang tabu untuk diangkat ke permukaan. Tema ini juga bisa semakin berbahaya karena melibatkan dua entitas berbeda dalam masyarakat Indonesia, dibanding dengan tema relijius yang marak muncul belakangan. Edwin sebagai sutradara, dalam film ini bertindak lebih sebagai pengamat yang me-rekoleksi memori pribadinya dibanding sebagai seorang penyelesai masalah atau pemberi khotbah.

“Yang mana pemain Indonesia?” suara seorang anak yang kita bayangkan sedang menonton pertandingan bulutangkis tunggal putri di layar televisi antara atlit Indonesia dan Cina. Di adegan-adegan berikut kita akan mengetahui bahwa atlit tersebut yang bernama Verawaty adalah ibu dari seorang gadis bernama Linda serta mempunyai kepala keluarga yang berprofesi sebagai dokter gigi yang diperankan oleh Pong Hardjatmo. Segera kita dapat merasakan bahwa keluarga itu adalah sebuah “dysfunctional family” dimana sang ayah mengutarakan keinginannya untuk masuk Islam dan lalu meminta cerai. Dia juga sering melafalkan lagu “I Just Want to Say I Love You” dari Stevie Wonder yang terasa sebagai suatu sindiran terhadap keseluruhan atmosfer film ini.

Cerita film ini kemudian bercabang terhadap kehidupan Linda yang mempunyai sahabat seorang anak lelaki bernama Cahyono. Persahabatan mereka berlanjut sampai mereka beranjak dewasa yang disajikan dengan alur yang maju-mundur tak beraturan antara masa sekarang dan masa lalu.

Karakter-karakter dalam film ini menjalani hidup keseharian mereka secara fundamental dalam perbedaan antara mereka dengan masyarakat sekitar. Pencarian jati diri dilakukan “mostly” dalam kebingungan mereka untuk lebih diterima masyarakat sekitar, walau masyarakat tersebut tidak menyuruh mereka langsung untuk berubah secara fisik. Sang ayah memakai benda sejenis cellotape yang dapat membuat matanya terlihat mempunyai lipatan layaknya masyarakat pribumi Indonesia pada umumnya, dan Cahyono yang lebih baik mendandani dirinya seperti orang Jepang karena cita-citanya sedara kecil adalah menjadi apa saja kecuali menjadi orang Cina. Hanya Linda yang terlihat tenang dan sabar menyaksikan tingkah ayah dan sahabatnya itu sembari menunggu waktu tepat kapan waktunya dia bisa “terbang”, dengan memendam rasa penasaran karena tidak tahu sebab pasti perceraian kedua orang tuanya, dan selalu ada untuk menghibur sahabatnya yang masih menerima perlakuan “bully” hingga saat dewasa karena berdandan a la orang Jepang.

Film ini merupakan komedi yang sarkastis, sinis, dan gelap. Minim dialog, awas dan sensitif dengan problematika sosial di sekitarnya, berani mengambil resiko, penuh metafora, tetapi juga masih terasa takut untuk blak-blakan pada saat yang bersamaan. Kebanyakan idenya direalisasikan pada adegan-adegan yang terasa layaknya sebuah film bisu komedi dan pada saat karakternya berbicara, Bahkan adegan petasan mereka akan mengatakan sesuatu seperti layaknya membaca “cue card”. Kedewasaan Linda ditampilkan dengan keberhasilannya untuk melempar lampu neon yang terasa susah digapai saat dia kecil, atau petasan yang secara tidak langsung merefleksikan masalah rasisme yang mudah meledak apabila disundut sumbunya, dan lama-kelamaan akan menimbulkan bekas luka yang mendalam.

Orang mungkin mempertanyakan mengapa Edwin memilih untuk menyajikan adegan-adegan yang mengarah ke tema utamanya tidak dibuat dengan scene yang lebih gamblang atau artikulatif dalam sense yang lebih sinematik, seperti contoh mengapa perlakuan “bully” yang didapat Cahyono disaat dewasa tidak ditampilkan seperti ketika dia menerima perlakuan yang sama di masa kecilnya. Tetapi saya pikir itu adalah suatu kesengajaan, karena menurut saya atmosfer tersebut tepat dibangun sebagai metafor kalau rasisme yang terjadi di lingkungan kita sehari-hari adalah sesuatu yang dapat kita bicarakan dengan sesama etnis tertentu, tetapi haram untuk diumbar ke ruang publik.

Apakah Edwin memperlakukan karakter-karakternya sebagai korban belaka atau melihatnya dari sebelah sisi saja?, well, pastiakan selalu ada yang menjadi korban dalam masalah rasisme, apalagi jika menyangkut suatu etnis minoritas. Tetapi melihatnya secara sempit begitu tanpa mengingat lagi dampak dari Tragedy berdarah pada Mei 1998 yang juga berimbas pada bangsa Indonesia secara keseluruhan baik pribumi maupun keturunan Tionghoa adalah juga salah. Dan setidaknya Edwin juga berani mengkritisi dan “ridicule” karakter-karakter keturunan Tionghoa-nya, dimana hal tersebut juga yang membuat kita meringis saat menertawainya, dan tersayat jika kita mencoba acuh pada permasalahannya. Dengan kata lain sinisme dalam film ini tidak merendahkan karena di “treat” dengan kenaifan yang lebih terasa “it’s funny because it’s true”.

Edwin mungkin memasukkan beberapa referensi politik dan kondisi sosial di Indonesia yang akan membuat orang asing susah untuk mengerti. Sarkasme yang terasa “over-reach” dan “shocking value” yang intensional terhadap aparat keamanan, dan momen grotesque antara sang ayah dan kedua teman prianya membuat sedikit “imbalance” terhadap “overall tone” film ini–walau tujuan utamanya “beautifully juxtaposed back-to-back” dengan adegan Linda yang sedang melakukan pekerjaannya sebagai editor yang sedang merangkai gambar kerusuhan Mei 1998 berujung konklusi surreal namun masuk ke dalam premis dan “grand theme” film ini.

Untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang pertama harus dilakukan adalah menyadarai kalau ada masalah. “Babi Buta Yang Ingin Terbang” menyajikan suatu permasalahan, dan mungkin film ini tidak dipenuhi oleh kisah persahabatan yang menyentuh, tetapi juga tidak dipenuhi oleh kebencian yang berlebihan. Film ini memperlihatkan kesulitan-kesulitan yang ada dalam permasalahan tersebut, dengan kata lain, berjalan ke arah yang jarang dijamah orang, untuk awas terhadap suatu bahaya yang mengancam, mengambil resiko, walau tidak dipungkiri dengan rasa takut juga.

Advertisements


2 Responses to “Babi Buta Yang Ingin Terbang”

  1. 1 AOPApanda

    ad sisa trauma yg disampaikan..
    sayang film ini msh beredar untuk kalangan..dan kalangan lain siap mengeluarkan urat syaraf..
    “skrang kita masih menumpang di Indonesia..belum 1 Indonesia”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: