Director: Edwin

Year: 2008

Country: Indonesia

“Babi Buta Yang Ingin Terbang” dibuka dengan suatu voice-over dengan premis yang jelas dan akan membuat detak jantung setiap orang Indonesia yang menonton akan berdetak lebih keras daripada kebanyakan film yang dirilis oleh sutradara Indonesia lainnya akhir-akhir ini. Film ini bisa jadi provokatif karena tema utamanya adalah rasisme yang oleh sebagian besar orang Indonesia merupakan hal yang tabu untuk diangkat ke permukaan. Tema ini juga bisa semakin berbahaya karena melibatkan dua entitas berbeda dalam masyarakat Indonesia, dibanding dengan tema relijius yang marak muncul belakangan. Edwin sebagai sutradara, dalam film ini bertindak lebih sebagai pengamat yang me-rekoleksi memori pribadinya dibanding sebagai seorang penyelesai masalah atau pemberi khotbah.

“Yang mana pemain Indonesia?” suara seorang anak yang kita bayangkan sedang menonton pertandingan bulutangkis tunggal putri di layar televisi antara atlit Indonesia dan Cina. Di adegan-adegan berikut kita akan mengetahui bahwa atlit tersebut yang bernama Verawaty adalah ibu dari seorang gadis bernama Linda serta mempunyai kepala keluarga yang berprofesi sebagai dokter gigi yang diperankan oleh Pong Hardjatmo. Segera kita dapat merasakan bahwa keluarga itu adalah sebuah “dysfunctional family” dimana sang ayah mengutarakan keinginannya untuk masuk Islam dan lalu meminta cerai. Dia juga sering melafalkan lagu “I Just Want to Say I Love You” dari Stevie Wonder yang terasa sebagai suatu sindiran terhadap keseluruhan atmosfer film ini.

Cerita film ini kemudian bercabang terhadap kehidupan Linda yang mempunyai sahabat seorang anak lelaki bernama Cahyono. Persahabatan mereka berlanjut sampai mereka beranjak dewasa yang disajikan dengan alur yang maju-mundur tak beraturan antara masa sekarang dan masa lalu.

Karakter-karakter dalam film ini menjalani hidup keseharian mereka secara fundamental dalam perbedaan antara mereka dengan masyarakat sekitar. Pencarian jati diri dilakukan “mostly” dalam kebingungan mereka untuk lebih diterima masyarakat sekitar, walau masyarakat tersebut tidak menyuruh mereka langsung untuk berubah secara fisik. Sang ayah memakai benda sejenis cellotape yang dapat membuat matanya terlihat mempunyai lipatan layaknya masyarakat pribumi Indonesia pada umumnya, dan Cahyono yang lebih baik mendandani dirinya seperti orang Jepang karena cita-citanya sedara kecil adalah menjadi apa saja kecuali menjadi orang Cina. Hanya Linda yang terlihat tenang dan sabar menyaksikan tingkah ayah dan sahabatnya itu sembari menunggu waktu tepat kapan waktunya dia bisa “terbang”, dengan memendam rasa penasaran karena tidak tahu sebab pasti perceraian kedua orang tuanya, dan selalu ada untuk menghibur sahabatnya yang masih menerima perlakuan “bully” hingga saat dewasa karena berdandan a la orang Jepang.

Film ini merupakan komedi yang sarkastis, sinis, dan gelap. Minim dialog, awas dan sensitif dengan problematika sosial di sekitarnya, berani mengambil resiko, penuh metafora, tetapi juga masih terasa takut untuk blak-blakan pada saat yang bersamaan. Kebanyakan idenya direalisasikan pada adegan-adegan yang terasa layaknya sebuah film bisu komedi dan pada saat karakternya berbicara, Bahkan adegan petasan mereka akan mengatakan sesuatu seperti layaknya membaca “cue card”. Kedewasaan Linda ditampilkan dengan keberhasilannya untuk melempar lampu neon yang terasa susah digapai saat dia kecil, atau petasan yang secara tidak langsung merefleksikan masalah rasisme yang mudah meledak apabila disundut sumbunya, dan lama-kelamaan akan menimbulkan bekas luka yang mendalam.

Orang mungkin mempertanyakan mengapa Edwin memilih untuk menyajikan adegan-adegan yang mengarah ke tema utamanya tidak dibuat dengan scene yang lebih gamblang atau artikulatif dalam sense yang lebih sinematik, seperti contoh mengapa perlakuan “bully” yang didapat Cahyono disaat dewasa tidak ditampilkan seperti ketika dia menerima perlakuan yang sama di masa kecilnya. Tetapi saya pikir itu adalah suatu kesengajaan, karena menurut saya atmosfer tersebut tepat dibangun sebagai metafor kalau rasisme yang terjadi di lingkungan kita sehari-hari adalah sesuatu yang dapat kita bicarakan dengan sesama etnis tertentu, tetapi haram untuk diumbar ke ruang publik.

Apakah Edwin memperlakukan karakter-karakternya sebagai korban belaka atau melihatnya dari sebelah sisi saja?, well, pastiakan selalu ada yang menjadi korban dalam masalah rasisme, apalagi jika menyangkut suatu etnis minoritas. Tetapi melihatnya secara sempit begitu tanpa mengingat lagi dampak dari Tragedy berdarah pada Mei 1998 yang juga berimbas pada bangsa Indonesia secara keseluruhan baik pribumi maupun keturunan Tionghoa adalah juga salah. Dan setidaknya Edwin juga berani mengkritisi dan “ridicule” karakter-karakter keturunan Tionghoa-nya, dimana hal tersebut juga yang membuat kita meringis saat menertawainya, dan tersayat jika kita mencoba acuh pada permasalahannya. Dengan kata lain sinisme dalam film ini tidak merendahkan karena di “treat” dengan kenaifan yang lebih terasa “it’s funny because it’s true”.

Edwin mungkin memasukkan beberapa referensi politik dan kondisi sosial di Indonesia yang akan membuat orang asing susah untuk mengerti. Sarkasme yang terasa “over-reach” dan “shocking value” yang intensional terhadap aparat keamanan, dan momen grotesque antara sang ayah dan kedua teman prianya membuat sedikit “imbalance” terhadap “overall tone” film ini–walau tujuan utamanya “beautifully juxtaposed back-to-back” dengan adegan Linda yang sedang melakukan pekerjaannya sebagai editor yang sedang merangkai gambar kerusuhan Mei 1998 berujung konklusi surreal namun masuk ke dalam premis dan “grand theme” film ini.

Untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang pertama harus dilakukan adalah menyadarai kalau ada masalah. “Babi Buta Yang Ingin Terbang” menyajikan suatu permasalahan, dan mungkin film ini tidak dipenuhi oleh kisah persahabatan yang menyentuh, tetapi juga tidak dipenuhi oleh kebencian yang berlebihan. Film ini memperlihatkan kesulitan-kesulitan yang ada dalam permasalahan tersebut, dengan kata lain, berjalan ke arah yang jarang dijamah orang, untuk awas terhadap suatu bahaya yang mengancam, mengambil resiko, walau tidak dipungkiri dengan rasa takut juga.


Dir: Jia Zhangke

Country: China

Year: 2000

Industri film di Cina Daratan telah ada semenjak zaman film bisu, dengan bakat seperti Ruan Ling-yu yang banyak membintangi film-film melodrama yang banyak dipengaruhi oleh film-film Hollywood. Namun industri perfilman mereka lebih mudah dan lazim diasosiasikan dengan film kung-fu atau martial arts. Kesuksesan Zhang Yimou dengan Raise the Red Lantern dan Chen Kaige dengan Farewell, My Concubine membuat mata dunia menoleh bahwa Cina juga dapat membuat drama.

Jia Zhang-ke, mungkin namanya akan terasa asing di Indonesia. Di Cina Daratan sendiri, film-filmnya tidak dapat dinikmati secara luas dan legal sampai film ke-empatnya The World (Shijie) di tahun 2004. Zhang-ke banyak dikritik di negaranya sendiri karena selalu membuat film dengan tema susahnya hidup di negara dengan sistem politik komunis dan dikhawatirkan akan membuat Cina terlihat buruk di mata dunia. Sebelum 2004, film-filmnya hanya dapat dinikmati oleh penduduk Cina dalam format VCD dan DVD bajakan yang beredar luas di setiap sudut di negara itu.

Platform adalah film keduanya, dan banyak kritikus film yang setuju bahwa ini adalah salah satu film terbaik yang dibuat di dekade 2000. Setting waktu adalah Cina Daratan dalam kurun waktu antara tahun 1979 sampai tahun 1990, tetapi dimana Cina mulai membuka diri terhadap sistem Kapitalisme dengan kebijakan Open Door yang terkenal itu, dipimpin oleh Deng Xiaoping. Tidak ada penunjuk tahun dilayar kaca kita, tapi kita dapat merasakan pergantian masa atau tahun melalui perubahan sikap, sifat, musik yang diputar, dan yang terpenting kebiasaan yang dilakukan oleh karakter-karakternya.

Platform diceritakan dari sudut pandang 2 orang karakter pria, Cui Mingliang dan Zhang Jun, serta 3 orang karakter wanita yang mempunyai hubungan asmara dengan dua pria tersebut, yang tergabung dalam sebuah kelompok troupe atau travelling players atau artis keliling yang berasal dari sebuah kota kecil bernama Fenyang. Secara garis besar, Zhang-ke mencoba untuk mengobservasi sebuah kelompok masyarakat dalam menerima dan menjalani perubahan dalam sebuah sistem yang tadinya membuat mereka terkekang, tidak mempunyai privasi, dan kesenangan hanya dapat dilakukan dalam tempat tertutup dan terbatas. Kenaifan generasi muda untuk mengadopsi budaya yang baru dipandang rendah oleh generasi yang lebih tua. Menonton film India atau film asing lainnya, perempuan merokok, memakai celana cut-bray atau bell-bottom, dan mendengarkan musik New Wave yang populer di era 80-an dianggap memalukan dan merendahkan harga diri bangsa, padahal generasi muda itu hanya ingin dianggap sebagai bagian dari warga dunia, atau Citizen of the World.

Merasa bahwa seni teater sudah kuno, grup artis keliling itu mencoba untuk mengikuti tren yang ada dengan merubah pertunjukkan mereka menjadi kelompok seni yang membawakan tarian dan nyanyian yang diiringi musik elektronik New Wave buatan Barat tetapi liriknya dirubah ke Bahasa Mandarin dan Kanton. Beberapa orang siap menghadapi perubahan tersebut, dan banyak pula yang merasa perubahan tersebut terlalu cepat dan drastis. Tetapi seperti film Jia Zhang-ke lainnya, selalu ada rindu akan kenangan masa lalu, ketika kehidupan pribadi masyarakat itu diatur oleh kekuasaan, atau lebih sederhana lagi kerinduan terhadap kampung halaman. Beberapa orang merasa modern dan senang akan keberhasilannya setelah berhasil melihat dunia luar dan melakukan hal-hal baru, dan sebagian menjalani perubahan dengan santai.

Tidak sulit untuk merasakan pengaruh Jia Zhang-ke ketika membuat Platform. Seperti layaknya sutradara-sutradara asal Uni Sovyet terdahulu seperti Sergei Eisenstein, Aleksander Dovzhenko, atau Vsevolod Pudovkin, Jia Zhang-ke mendeskripsikan sebuah cerita dari sekumpulan orang dibanding memfokuskan pada satu atau dua karakter layakya film pada umumnya. Fokus dan atensi penuh kita sangat dibutuhkan untuk dapat menikmati film ini, karena Platform mempunyai narasi yang elipsis, layaknya film dari salah satu sutradara film favorit Jia Zhang-ke, yaitu Robert Bresson. Yang artinya, cerita dalam film tidak akan tergambar utuh atau dibutuhkan partisipasi imajinasi yang aktif dari movie-goer untuk mengisi kekosongan-kekosongan narasi dalam film ini.

Medium shot dan long takes yang kadang ekstrim adalah pilihan Jia Zhang-ke ketika memfilmkan Platform untuk merefleksikan secara visual peningkatan kadar polarisasi di berbagai daerah di Cina, sebagai hasil dari perubahan dalam reformasi ekonomi dan budaya mengikuti arus globalisasi dan mdoernisasi yang tidak dapat dihindarkan lagi di penghujung abad 20. Platform dapat dilihat sebagai komedi hasil observasi subtil atau sebuah Epik Realisme seperti yang dikehendaki Jia Zhang-ke sendiri.


Dir: John Cassavetes

Country: USA

Year: 1974

Ketika berbicara tentang apa itu film Indie atau Independent asal Amerika Serikat, kebanyakan orang akan berfikir tentang Quentin Tarantino dengan Reservoir Dogs dan Pulp Fiction, karena film tersebut mempunyai dialog-dialog keren dan alur narasi yang tidak lazim, atau Little Miss Sunshine karena film tersebut dibuat dengan budget yang terbilang sangat kecil untuk industri film Amerika.

Film independen telah ada semenjak lahirnya media film itu sendiri, tetapi kebanyakan memang dibuat bukan untuk kepentingan komersial alias untuk hobi pribadi saja. Amerika Serikat dengan studio-studio filmnya yang mempunyai biaya promosi dan pemasaran bombastis adalah negara dimana media film dapat dikatakan memang diproduksi dengan tujuan mencari keuntungan, lebih ke urusan bisnis dibandingkan kebebasan berekspresi.

Di era 50-an, dimana kamera video lebih terjangkau untuk dibeli, telah ada nama seperti Lionel Rogosin, Shirley Clarke, dan Bruce Conner yang membuat scene film Indie di Amerika terasa lebih ramai. Namun John Cassavetes-lah orang yang dianggap paling berjasa dan membuat banyak orang sadar bahwa film dapat dibuat dengan dana sendiri, serta didistribusikan sendiri untuk dilihat oleh banyak orang.

A Woman Under the Influence adalah film Indie ketiganya setelah sukses di Eropa dengan Shadows (1958), dan tiga nominasi Oscar pada 1968 dengan Faces. Dibuat dengan merogoh koceknya sendiri hasil aktingnya dalam beberapa film produksi Hollywood seperti Dirty Dozen dan Rosemary’s Baby, A Woman Under the Influence berfokus kepada cerita kompleksnya hubungan sepasang suami-istri dengan tiga anak kecil menjalani tantangan untuk menghadapi masalah “kegilaan” yang diderita oleh sang istri. Mabel (Gena Rowlands), sang istri adalah seorang wanita dengan masalah kejiwaan yang kadang dapat bertindak berlebihan bila merasa terlalu antusias terhadap sesuatu. Dia tidak berbahaya bagi orang di sekitarnya, bahkan dia dapat menjalankan fungsinya sebagai ibu rumah tangga kepada suaminya Nick (Peter Falk), dan ketiga anak mereka.

Nick yang masih dipengaruhi kuat oleh ibunya lama-kelamaan merasa perlu untuk “menyembuhkan” Mabel agar dapat terlihat normal layaknya orang lain di lingkungan mereka dengan cara membawa Mabel ke sebuah institusi kejiwaan selama 6 bulan. Problem utamanya bukan hanya tentang bagaimana orang-orang di sekitar Mabel merasa dia aneh, tetapi sama sulitnya untuk Mabel menerima dirinya berbeda dengan orang lain dan membuat dirinya beradaptasi terhadap orang lain.

Kehebatan Cassavetes terletak pada observasinya yang mendalam terhadap individu-individu dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak diberi dialog-dialog cerdas khas Tarantinian, tetapi dialog yang simpel, kadang terdengar bodoh, dan lucu seperti yang kita dengar dan lakukan dalam keseharian hidup kita. Emosi dan gambaran karakter kita tangkap karena kita mengenal karakter-karakter tersebut dari dialog dan tindakan mereka. Simpati dan benci kita terhadap suatu karakter muncul seperti saat kita mengevaluasi seorang teman atau kerabat dari aksi nyata yang mereka perlihatkan dan lakukan kepada kita. Everything that is on the surface.

Cassavetes mencoba untuk mendudukkan kita pada posisi Nick, Mabel, ketiga anaknya, maupun peran pembantu lainnya. Bagaimana kita merespon situasi tersebut. Bagaimana kita membuat diri kita terlihat bodoh, hilang arah, perduli dengan pendapat dan perkataan orang lain hanya untuk terlihat baik dimata orang luar, dan bagaimana kita dapat menemukan diri kita sendiri, jikalau kita beruntung dan berani untuk membuka pikiran untuk mencoba mengerti permasalahan yang terjadi pada orang lain.
Banyak karakter-karakter dalam film Cassavetes adalah alter-egonya sendiri, tetapi tidak ada yang lebih mendekati daripada Mabel. Mabel adalah Cassavetes, entertainer yang eksentrik, pantomim yang suka memparodikan orang di sekitarnya, mistress of ceremonies penuh guyonan.

Ketika banyak orang ribut tentang film Indie itu harusnya mempunyai sebuah ide segar, berbeda, dan cara bercerita yang unik sehingga membuat film Indie secara superficial terlihat berbeda dengan film yang dibuat studio mainstream Hollywood, Cassavetes mengingatkan kembali tugas seorang seniman itu sebagai reporter terhadap permasalahan dan keberatan-keberatan yang ada di dalam diri dan pikiran seorang seniman itu sendiri. Film-filmnya tidak akan lekang dimakan waktu, karena tidak dibuat berdasarkan suatu invention of idea atau dari segi teknis, tetapi lebih ke invention of understanding between or among people. Film-film dari John Cassavetes mengajarkan dan memberi pengalaman baru dalam melihat, merasakan, mendengar, dan belajar tentang orang lain, dan yang paling penting tentang diri kita sendiri, the personal truth.


Touki Bouki

06May10

Director: Djibril Diop Mambety

Country: Senegal

Year: 1973

Touki Bouki is what differ what cinema can do as art comparing to literature, music and painting. Because when cinema is not only about story, it’s also about choices. Choosing which scenes should be put into the medium and then editing it as a whole.

Mambety told a story that has been told maybe hundred times before and after, which is about a couple who wants a better life in the future by going abroad to Paris. They are a mischievious couple who was often mocked by the society as good for nothing persons. Their journey to get the money accompanied with beautiful cinematography which sometimes might confuse you because also filled their journey with their dreams, hope, and something about their past. Mambety’s scenes are very rich in meaning, without trying to be preachy or articulate everything by dialogues. A motorcycle with bull horn, symbolizes their pride and also their only valuable property, especially when Mambety shows the guy tied and roped the motorcycle into a tree like a real bull.

Crimes and misdemeanors are done by the couple. Stealing and cheating other people are parts of their lives now, for one purpose, the Dakkar port. A song about Paris is played continously and repeatedly on the background, when they are almost ready to depart in the port. Memories keep coming but hope and dream are also appearing to evoke their existensial angst. Is better future could only happen in France, are we doing the right thing? Those are the questions for the couple as Mambety closes the film beautifully and emotionally rich.


I love Kala but I wonder why Joko Anwar adapted Sekar Ayu Asmara’s novel, because Pintu Terlarang basicly is the same movie with Sekar Ayu Asmara’s Soul Mate (whose novel was adapted for this movie). Only I like Pintu Terlarang more because of the deft cinematography, editing, and of course the visual is like a feast before my eyes. Both are about persons with mental illness because something they did in their past. And obviously both have the same escapism ending which I loathe…very much. Trying to lure people to think the movie is about serious matter, then BAM! twist it around just to watching tricks than facing reality, dealing with harder questions.I think we or at least people with mental illness should be insulted by this movie, because what? their way to get their happiness is only through puzzling dreams? People are afraid of the world, of their lives. Game-playing is a form of avoidance. This film is totally a form of escapism, ways of dropping out of reality, of avoiding life.Sorry and this kind of puzzle-films are a way of flattering themselves that they are smart and hip .” This movie is too afraid and too intimidated by the complexity of adult life to grapple with it.

And I never understand why would a filmmaker needs to clarify or to make his/her film more clear to their audiences. I don’t watch movie if I want to learn about Psychology, it’s like you’re watching Van Gogh’s The Sunflower to learn about botanical.


What I mostly hate from Indonesian movies are where every character sounds articulative or smart enough to express their feelings. No matter what their flaws, the main characters are almost always appealing in some way, or even try to appeal us. And if they are lonely, their alienation is grand and alluring. Ravi Bharwani and the gang strip away those idealizations and asks us to spend time with genuinely unromantic characters leading genuinely unsympathetic lives. A boy was sent to a little port to meet his real father, after his mother’s death. His father’s (Didi Petet) life is secluded because of a crime he did in the past regarding triangle love story among him, the boy’s mother, and another guy.

Rather than accepting the boy, the father urges the boy to live and lead the same life as other boys work in that little port. Emotion comes from the laughter and experiences of the boy who tries to learn the work ethic in his new place, because some experiences couldn’t be said, what is seen enough is enough.

To this day, the kids acting are the most natural, also the most interesting of an Indonesian movie (move aside Garin, with your Daun diatas Bantal). Ravi Bharwani surely is the best-kept secret in Indonesian film.